Jika sampai terjadi Anak Indonesia darurat bermain, akan benar pernyataan semacam ini: yang kecil cepat dewasa, yang tua malah bersifat kekanak-kanakan.

Pagi tadi saya melihat suatu pemandangan aneh. Seorang anak kecil nekat berdiri di tengah jalan untuk menaikkan layang-layangnya. Ia tergolong nekat karena banyak kendaraan lalu lalang di sana. Agak sedikit jengkel, saya bergumam, kenapa sih harus di jalan, apa tidak ada tempat lain. Tapi kemudian saya tersadar, apa ada tempat lain?

Di sekitar perumahan penduduk kini sangat jarang lahan kosong untuk bermain. Apalagi untuk permainan layang-layang yang notabene membutuhkan ruang yang luas. Angin yang lumayan kencang, landasan pacu lari untuk menaikkan layangan, serta posisi teduh jika sudah mengudara. Beda ketika harus fight antar layangan, tempatnya harus seluas mungkin, untuk menjamin manuver-manuver mengalahkan musuh. Ketika lahan yang memenuhi syarat tersebut tidak terpenuhi, maka anak-anak akan pindah ke tempat berbahaya semisal jalan raya. Kecenderungan untuk celaka pun semakin tinggi.

Bagaimana ini solusinya? Apakah Kementerian Pendidikan tidak memikirkan masalah ini? Apa mungkin masalah bermain anak seluruh Indonesia tidak menjadi perhatian pemerintah? Apakah Pak Menteri hanya mengurusi urusan belajar anak Indonesia, sedangkan urusan bermain tidak menjadi prioritas? Lantas ke pihak manakah anak-anak itu akan mengadukan tempat bermain layang-layang mereka? Atau mungkin kalau lingkupnya dikecilkan, adakah perhatian gubernur, bupati, wali kota, camat, dan bahkan lurah untuk memasukkan lapangan layangan sebagai bagian dari lingkup tata wilayah?

Anak Indonesia Darurat Bermain

Akankah anak Indonesia darurat bermain dan keceriaan ini akan hilang?
Foto: Merdeka.com

Mengapa orang-orang pada sibuk berdebat tentang Full Day School (FDS), sedangkan tidak ada yang memperjuangkan peluang bermain anak, baik dari segi waktu dan tempat? Apakah bermain tidak penting? Apakah bermain bukan termasuk dalam pengembangan karakter anak? Atau jangan sampai muncul pernyataan seperti ini: anak-anak Indonesia sedang diintai sebagai konsumen kapitalisme global sehingga mereka dipaksa untuk bermain gadget dibandingkan bermain di alam bebas.

Jangan hanya Pansus politik saja

Kalau bisa dibentuk segera Panitia Khusus (Pansus) Bermain Anak Indonesia oleh anggota DPR pusat. Bisa juga dibentuk Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Permainan Anak Republik Indonesia. Demi keberlangsungan kebahagiaan anak Indonesia. Ini adalah main yang serius atau menseriusi main-main. Itu baru permainan layang-layang. Belum lagi gobak sodor, petak umpet, engkleng, ular naga panjang, egrang, kelereng, dan bebentengan. Serta masih banyak lagi puluhan permainan anak tradisional yang hampir setiap daerah memiliki ciri khas dan keunikan sendiri.

Perencanaan tentang ruang bermain bagi anak kiranya penting. Dalam beberapa kasus, bahkan ada beberapa anak jadi korban tenggelam di lubang bekas galian tambang karena tidak mendapatkan tempat bermain yang layak. Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, lahan bermain akan semakin susah ditemukan. Saya tidak membayangkan mereka akan nekat mencari tempat-tempat berbahaya untuk bermain. Atau bahkan mereka bahkan tidak punya waktu luang untuk bermain. Akhirnya mereka jadi youtubers, gamers, atau pembuat meme.

Efek paling mengerikan dalam benak saya adalah anak-anak akan cepat dewasa, sedangkan kebutuhan bermain mereka tidak terpenuhi. Alhasil, anak-anak akan dewasa sebelum waktunya. Di samping itu, keinginan bermain mereka akan dipendam hingga tua nanti. Sehingga ketika tua kelak,  mereka akan mendambakan menjadi anak kecil lagi, mengeksplor dan bermain sepuasnya. Ini tentu akan menjadi aneh. Ketika bekerja menjadi anggota dewan, misalnya, mereka akan main-main anggaran, main-main ketika rapat, dan main-main dalam memutuskan perundang-undangan. Belum lagi kalau mereka main-main ketika menjadi presiden, menteri, aparat penegak hukum, bupati, bahkan hingga profesi lain: dokter, perawat, guru, manajer perusahaan, penjual pentol, dan sebagainya. Akan benar pernyataan semacam ini: yang kecil cepat dewasa, yang tua malah bersifat kekanak-kanakan.

Seharusnya bermain juga diberi porsi yang seimbang selain belajar. Perhatian kepada bermain belum semaksimal perhatian kepada belajar. Kalau banyak pihak mempertentangkan wacana FDS dan meributkannya bahkan mengancam akan melakukan demo besar-besaran, saya tidak begitu tertarik membahasnya. Bagi saya, setiap ganti menteri pendidikan, toh akan berganti pula regulasi dan cara mainnya. Wacana FDS pun rentan berganti jika menterinya juga ganti kelak.

Sedangkan wacana bermain bagi anak, bagi saya luput dari perhatian para pemangku kepentingan. Hal ini lebih penting, karena siapa pun menterinya, tidak pernah tertarik untuk mewacanakannya. Jangan sampai kemudian muncul istilah: anak Indonesia darurat bermain. Anak-anak pun sejatinya punya hak asasi bermain. Mereka bukan robot yang dijejali berbagai pengetahuan dan materi pelajaran. Mereka hanya butuh bermain: belajar untuk kreatif dan tertawa bersama teman-teman mereka. Mereka hanya ingin menjadi layaknya manusia.

Foto: beritadaerah.co.id