“Dunia ini bagaikan buku raksasa. Dan mereka yang tidak melakukan perjalanan, hanya membaca satu halaman saja” – St. Agustine

FABANA.id. Suatu ketika, saya berdiri di dataran paling tinggi di Kota Sapporo, Pulau Hokaido, Jepang. Sebuah dataran tinggi yang masih menyisakan salju tebal di beberapa bagian setelah musim dingin baru saja berlalu. Di bawah dataran ini, di lereng tebingnya terhampar salju putih tebal dengan lalu lalang orang bermain ski. Sebagian antri menuju kereta gantung yang akan membawa ke puncak dataran dan meluncur via lintasan sesuai pilihan ketinggian yang dipilih atau sekedar menikmati pemandangan melihat kota sapporo dari ketinggian sekaligus melihat dataran Rusiayang terpisah laut dan berada tak jauh dari pulau hokaido.

Sebagaimana melihat ka’bah ketika umroh beberapa tahun sebelumnya, air mata saya menggenang di pelupuk mata. Ada rasa syukur teramat dalam atas karunia dan kesehatan serta kemampuan yang Allah berikan sehingga berkesempatan melihat ka’bah. Sebuah bangunan sederhana yang teramat dirindukan dan sebelumnya hanya ada di impian dan di gambar sajadah atau foto-foto dan lukisan yang ada. Begitu melihat langsung, tak ada kata yang mampu terucap kecuali getaran dada yang terguncang rasa syukur.

Walau tak sehebat melihat ka’bah, melihat salju tebal musim dingin di negeri empat musim seperti Jepang, membuat hati ini terguncang. Salju tebal dengan nuansa putih bersih laksana kertas terhampar dengan pepohonan yang juga sebagian masih menyisakan salju-salju di daun dan dahan-dahannya sungguh mengharu biru. Selama ini melihat salju hanya di foto atau film-film yang ada, itu pun tak terbayang seberapa putih, tebal dan luasnya salju ini.

Bepergian, menikmati jengkal demi jengkal negeri lain mungkin mahal dan melelahkan. Barangkali juga menguras isi dompet, tabungan bahkan juga barang-barang simpanan yang bisa jadi terjual demi keberangkatan menuju negeri tujuan yang jauh. Namun kadang di atas semua kesulitan tadi, bila Allah SWT berkehendak “menjalankan” kita mengitari negeri-negeri yang jauh dari tempat kelahiran, bukan sesuatu yang mustahil. Bukankah sebuah anugerah luar biasa jika akhirnya Allah memberikan rejeki kepada kita berupa kesempatan keliling dunia tidak dengan ongkos sendiri, bahkan ditanggung semua keperluannya. Sudah begitu, masih dibayar lagi setiap harinya. Luar biasa.

Untuk jalan-jalan ke berbagai tempat, apalagi ke luar negeri memang tak mudah. Apalagi ke tempat yang jauh dan berbeda kondisi alam dan budaya masyarakatnya. Selain itu, tak pula murah ongkos dan biaya lainnya selama perjalanan hingga kembali ke tempat asal. Kemampuan finansial salah satu kunci dan modal untuk seseorang bisa bergerak di negeri orang lain. Namun faktor kesehatan juga perlu dipertimbangkan dengan baik, jangan sampai justru karena kondisi badan tak memungkinkan hasilnya malah menyusahkan selama di perjalanan.

Ada beragam ikhtiar untuk memiliki keberanian melintasi batas negeri dan menjalani hari-hari di negeri orang lain. Salah satu bentuk ikhtiar itu adalah dengan menabung. Menabung dalam waktu tertentu gunanya akan terasa bila kita ingin memiliki kecukupan dana untuk melakukan traveling. Ketika niat menabung untuk travelling ini juga, saat yang sama barengi juga dengan do’a agar apa yang diimpikan dan diihktiarkan dengan menabung ini Allah berikan kemudahan dalam mewujudkannya.

Do’a ini penting posisinya, karena bisa jadi lantaran do’a-do’a yang dipanjatkan Allah memberikan “shortcut” yang mempercepat ikhtiar manusiawi yang sedang kita usahakan. Bukan tak mungkin pula lewat do’a yang kita lantunkan Allah buka jalan yang sebelumnya bahkan tak pernah kita pikirkan dan bayangkan. Allah Penguasa langit dan bumi, bukan hal sulit di sisi Allah memperjalankan hambanya dari satu tempat ke tempat lainnya di sudut muka bumi yang dekat maupun jauh jaraknya.

Kembali ke soal jalan-jalan, ada baiknya jalan-jalan ini di mulai dari destinasi terdekat. Selain untuk latihan agar terbiasa melakukan jalan-jalan, juga untuk mengukur tingkat kemampuan manajemen perjalanan selama travelling. Semakin jauh, tentu semakin butuh persiapan panjang dan juga modal yang lebih banyak. Selain itu, travelling yang di mulai dari tempat terdekat juga akan menjadi bahan untuk melakukan perbandingan dengan tempat lain yang akan dikunjungi nanti. Perbandingan ini tak mesti berkonotasi negatif, tokh membandingkan juga berarti mencoba menganalisa dan melihat lebih seksama. Baik dari kelebihannya pun dengan melihat kekurangan yang ada.

Travelling yang jauh barangkali indah-indah tempatnya, mempesona dan juga membuat kagum ketika kita melihatnya. Namun bila kita sendiri nanti sampai ke tempat yang jauh tadi, dan ketemu dengan orang lain yang kebetulan pernah ke tempat-tempat sekitar tempat tinggal dan kitanya ternyata tak tahu apa-apa, tentu saja memalukan dan terlihat betapa kita terlihat tak punya kepedulian dengan kondisi sekitar. Kasus yang sederhana misalnya, ada orang yang tinggal dekat sebuah tempat wisata danau yang terkenal indah, namun karena ia merasa bertempat tinggal dekat danau tersebut, ia tak tertarik untuk sekedar menengoknya  barang sebentar. Maka jadilah ketika orang lain mengajak ngobrol tentang perkembangan danau tersebut, bisa jadi ia justru yang banyak bertanya.

Jadi, jalan-jalan lah atau lakukan travelling mulai dari yang dekat dulu, terus seiring waktu perluas jangkauannya, sekaligus perjauh jaraknya. Bagi kita yang ada di Indonesia, bersyukurlah atas anugerah Allah yang telah menciptakan keindahan negeri ini dengan keindahan yang sempurna. Ada begitu banyak tempat-tempat indah di negeri ini dan tersebar dari Aceh hingga Papua. Dari beratus gunung, danau, laut, sungai, taman, teluk, serta jutaan binatang dan tumbuhan yang ada yang menambah keindahan dan keragaman kekayaan alam Indonesia.

Wajar makanya, menabung untuk jalan-jalan pun baiknya tak diganggu untuk kepentingan lain. Agar aneka keindahan alam secara bertahap bisa dikunjungi dan dinikmati. Selesaikan dulu saja beragam tempat indah di negeri sendiri, baru jika telah “katam” silahkan memulai “touring” ke negeri lainnya yang ada di bumi.

“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu  (Q.S 71:19-20).

*

Stasiun Senen, Jum’at, 4 Agustus 2017
Oleh: Nana Sudiana, Direktur Pemberdayaan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI).

(MYM/F)